Breaking News
Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Readers Note

Prima Trisna Aji: Ramadan dan Krisis Kesehatan Gaya Hidup Modern

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu memperbaiki metabolisme tubuh, menurunkan kadar gula darah

Tayang:
Editor: iswidodo
TRIBUN JATENG/TIDAK ADA
rima Trisna Aji Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang 

Gaya Hidup Modern

Perubahan gaya hidup modern juga memperburuk kondisi tersebut. Budaya begadang semakin lazim terjadi selama Ramadhan. Banyak orang menghabiskan waktu hingga larut malam untuk aktivitas digital, hiburan, atau pekerjaan yang tidak mengenal batas waktu.

Kurang tidur memiliki dampak kesehatan yang tidak kecil. Penelitian medis menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres, mengganggu regulasi metabolisme, serta meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Dalam jangka panjang, kombinasi antara kurang tidur, pola makan tidak seimbang, dan stres psikologis dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada individu yang sudah memiliki penyakit kronis.

Padahal, dalam perspektif kesehatan, Ramadhan justru dapat menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki kebiasaan hidup. Pola makan yang teratur antara sahur dan berbuka sebenarnya membantu tubuh mengatur ritme metabolisme dengan lebih baik. Puasa juga mengajarkan disiplin, pengendalian diri, serta kesadaran terhadap apa yang dikonsumsi. Namun manfaat tersebut hanya dapat dirasakan jika Ramadhan dijalani dengan kesadaran kesehatan yang baik.

Menahan Lapar

Ramadhan seharusnya tidak hanya menjadi bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan manusia dengan tubuhnya sendiri. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat agar puasa benar-benar membawa manfaat kesehatan.

Pertama, mengatur pola makan yang seimbang saat sahur dan berbuka. Tubuh tidak membutuhkan konsumsi berlebihan setelah berpuasa seharian. Memulai berbuka dengan air putih dan makanan ringan seperti buah dapat membantu tubuh beradaptasi secara bertahap sebelum mengonsumsi makanan utama.

Kedua, membatasi konsumsi gula dan makanan tinggi lemak. Minuman manis memang menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa, tetapi konsumsi yang berlebihan justru dapat memicu lonjakan gula darah. Mengganti minuman manis dengan air putih atau minuman alami dapat membantu menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Ketiga, menjaga kualitas tidur yang cukup. Ramadhan bukan alasan untuk mengorbankan kesehatan melalui kebiasaan begadang yang berlebihan. Tidur yang cukup membantu tubuh menjaga keseimbangan hormon serta memperbaiki sistem kekebalan tubuh.

Keempat, tetap melakukan aktivitas fisik ringan. Jalan kaki, peregangan, atau olahraga ringan setelah berbuka dapat membantu menjaga kebugaran tubuh selama menjalani puasa.

Pada akhirnya, krisis kesehatan gaya hidup modern tidak hanya dapat diselesaikan melalui teknologi medis atau layanan kesehatan yang lebih canggih. Perubahan justru sering dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan memberi kesempatan bagi refleksi tersebut. Ia mengajarkan manusia untuk menahan diri dari yang berlebihan, mengatur kembali ritme kehidupan, serta membangun kesadaran baru terhadap kesehatan tubuh.

Jika nilai-nilai ini benar-benar dihayati, Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah yang menenangkan jiwa, tetapi juga momentum penting untuk menyembuhkan tubuh di tengah tekanan gaya hidup modern. (*)

 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved